(Source: starshollowconfessions)
(Source: starshollowconfessions)
Lampions.
Warning. This video causes more pain, anger, and disappointment.
And let me tell you my friend, we miss a big talent here.
Pertandingan derby antara Newcastle dan Sunderland kemarin malam begitu menarik terutama setelah Sessegnon dikartumerah oleh wasit karena memukul leher Tiote yang kemudian bereaksi cukup berlebihan sehingga memicu wasit mengeluarkan kartu merah. Setelah kejadian tersebut, otomatis Newcastle pun mendominasi pertandingan. Pertahanan Sunderland digempur habis-habisan dan para pemain Sunderland dipaksa bekerja keras sama habis-habisannya untuk menjaga gawang mereka agar jangan sampai kebobolan. Namun di menit-menit akhir pertandingan, akhirnya gawang Mignolet pun jebol setelah sebelumnya ia berhasil menghalau tendangan penalti yang diekskusi Demba Ba. Skor berakhir seri 1-1 dimana gol Sunderland dicetak oleh Bendtner pada babak pertama melalui titik putih.
Tapi, tidak. Di sini saya tidak akan membahas pertandingan tersebut secara strategi atau apapun lebih jauh karena saya tidak ahli dalam hal tersebut atau memberikan komentar tentang perselisihan yang sempat terjadi di pinggir lapangan antara Pardew dan O’neill. Tidak.
Begitu asiknya saya menikmati pertandingan, saya pun tidak memperhatikan running text yang tiba-tiba muncul di bagian bawah layar televisi yang menampilkan channel ESPN sampai adik saya yg sedang menonton bersama saya tiba-tiba menyahut, “Hah? Villas-Boas dipecat, Nis? Parah lah.”
Saya pun meresponnya dengan, “Hah? Apaan? Kata siapa?”.
“Itu ada di running text. Gila langsung muncul running text-nya gitu.”
Saya pun cepat-cepat membuka Twitter di Blackberry saya karena di situs jejaring sosial itu lah berita biasanya menyebar dengan cepat. Lalu saya segera membuka akun Twitter resmi Chelsea, @chelseafc. Dan benar saja. Mimpi buruk itu menjadi kenyataan.

Beberapa akun Twitter khusus Chelsea yang saya follow pun langsung ramai membahasnya. Salah satu akun Twitter khusus Chelsea, @ChelseaAnalysis, yang memang begitu vokal menentang pemecatan AVB dan mendukung agar AVB diberi waktu untuk melakukan revolusi, langsung menunjukkan kekecewaan yang sangat besar melalui tweet-tweet-nya bahkan kemudian me-reply akun Twitter resmi Chelsea seperti berikut: “You are a fucking joke. It has to be said.”
Retweet button clicked. Apa-apaan? Haruskah budaya memecat pelatih ketika hasil buruk didapat terus berlanjut? Mengapa tidak memberi AVB kesempatan dan waktu yang memang ia butuhkan? Apa yang ada di pikiran Abramovich? Mengapa Abramovich begitu tidak mengenal kata sabar?
Saya sangat kecewa, sedih, dan marah, jantung saya berdegup kencang ketika tahu berita ini. Bahkan saya pun kaget walaupun saya sudah tahu hal ini mungkin saja terjadi. Beberapa minggu belakangan ini saya begitu banyak membaca berita di berbagai media Inggris yang memprediksi bahwa pemecatan AVB tinggal menunggu waktu. AVB selalu disebut dengan embel-embel under-fire. Bahkan AVB sendiri akhirnya mengakui bahwa ia tidak yakin lagi apakah akan bisa mempertahankan tempatnya sebagai pelatih Chelsea. Namun saya ketika itu berpikir dan percaya bahwa pada akhirnya Abramovich akan menggunakan akal sehatnya dan berhenti menggunakan ketidaksabarannya. Ia akan tetap percaya pada AVB dan memberinya kesempatan. AVB adalah personal choice dari Abramovich, yang membuat saya semakin percaya bahwa Abramovich tidak akan membunyikan sirine tanda waktu habis untuk AVB. Saya salah. Saya terlalu naif untuk melihat bahwa hanya hasil instan yang ingin didapat Abramovich, bukan kestabilan dan kesuksesan jangka panjang.
Pemecatan AVB menandakan sekali lagi ego setinggi langit pemain-pemain senior Chelsea menang. Sudah menjadi rahasia publik bahwa Chelsea adalah klub dimana pemain memiliki kontrol besar. Peran pelatih dikucilkan. Jika para pemain tidak suka, maka pelatih harus keluar. Ingat bagaimana kasus Luiz Felipe Scolari yang dipecat karena tidak bisa mengontrol para pemain? Ia bahkan sempat membeberkan kepada media bahwa Drogba, Cech, dan Ballack memiliki andil atas pemecatannya ketika itu. Kurang lebih itu juga lah yang terjadi pada AVB. Lampard tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia sering dibangkucadangkan dan tidak lagi mendapat tempat utama di starting eleven. Ia bahkan mengaku pada media bahwa hubungannya dengan AVB bukanlah hubungan yang ideal. Malouda mengeluh karena memiliki sedikit kesempatan bermain dan sempat mengancam akan meninggalkan klub pada bursa musim dingin kemarin, yang pada akhirnya tidak terjadi. Drogba dikabarkan melakukan team-talk di koridor sebelum babak kedua melawan Birmingham City di FA Cup walau kemudian hal tersebut dibantah AVB dan Drogba sendiri. Saya mengerti bahwa mereka adalah legenda-legenda Chelsea yang membawa Chelsea pada masa jayanya. But, seriously. Hal itu tidak membuat mereka kemudian boleh merasa begitu istimewa dan bisa melakukan hal seenaknya dan meremehkan peran pelatih. Saya sangat menghargai apa yang mereka lakukan untuk Chelsea tapi jika mereka terus bersikap seperti itu hanya akan membawa kerugian untuk Chelsea. Saya sangat rela Chelsea melepas Lampard, Drogba, Malouda, Essien, bahkan Cole (karena menurut saya Cole masih memiliki performa bagus) jika memang itu yang dibutuhkan untuk menghilangkan kontrol pemain yang sudah menjadi penyakit menahun yang menggerogoti Chelsea.
Saya akui, AVB masih terlalu muda dan kurang pengalaman untuk menangani Chelsea yang ruang gantinya begitu dipenuhi ego. Ia pun terlalu arogan. Tapi ia butuh waktu untuk berkembang dan mengubah itu karena ia memiliki bakat dan kemampuan untuk menjadi pelatih hebat.
Kesempatan dan waktu. Lihat bagaimana Fergie dan MU. It took 5 seasons for Fergie to finally deliver when he took over MU. Tidak ada yang tidak tahu kesuksesan yang diraih MU bersama Fergie. Lihat bagaimana Arsenal berjalan pincang di awal musim ini namun berhasil pulih hingga sekarang berada di peringkat ke-4 klasemen unggul 3 poin dari Chelsea dengan tetap percaya pada Wenger. That kind of stability is what we need if we want to win Champions League. Wake up, Abramovich. Saya yakin pada akhirnya Chelsea yang akan menyesal karena tidak memberi kesempatan dan waktu pada AVB. He deserves a chance he obviously doesn’t get now that he’s sacked. Mungkin beberapa tahun lagi kita akan melihat AVB bersama klub barunya mengangkat trofi Liga Champions. Bahkan mungkin dua kali berturut-turut. Dan kita hanya bisa gigit jari dan meratapi penyesalan.